Ekonomi Syariah untuk Pemberdayaan Umat: Catatan dari Talkshow Literasi & Inklusi Keuangan Syariah BPRS Botani
Bagaimana negeri dengan 245 juta Muslim dan 64 juta UMKM masih tertinggal dalam menggunakan keuangan syariahnya sendiri — dan apa yang dilakukan BPRS Botani untuk mengubahnya
Sabtu, 5 September 2026, Ruang Equilibrium Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Bogor dihadiri akademisi, mahasiswa, hingga pelaku UMKM yang hadir dalam Talkshow Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah bertajuk "Ekonomi Syariah untuk Pemberdayaan Umat." Acara yang diselenggarakan atas kolaborasi BPRS Botani Bina Rahmah, FEM IPB University ini sukses digelar dengan antusiasme tinggi dari seluruh peserta yang hadir.
Jalannya talkshow dipandu oleh moderator Bapak Arie Wibowo Irawan dari Himpunan Alumni IPB, serta dipandu oleh Master of Ceremony dari kalangan Duta Mahasiswa IPB, Hafizh Purnama Putra, yang berhasil menghidupkan suasana sejak pembukaan hingga penutupan acara. Sebagai keynote speaker, hadir Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik, SP, MSc.Ec, Dekan FEM IPB sekaligus Komisaris Utama BPRS Botani Bina Rahmah. Diskusi kemudian diperkaya oleh tiga narasumber: Bapak Alfi Wijaya, SE., MM (Ketua Umum HIMBARSI), Ir. Adiwarman Azwar Karim, SE., MBA., MAEP (Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia, yang pada kesempatan ini diwakili oleh Profesor Hermanto Siregar), serta Dr. Imam Teguh Saptono, MM (Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia).
Lalu, apa sebenarnya yang dibahas dalam talkshow ini, dan mengapa temanya begitu penting bagi masa depan ekonomi umat?
Paradoks yang Melatarbelakangi Talkshow Ini
Indonesia memiliki lebih dari 245 juta penduduk Muslim dan 64 juta pelaku UMKM yang menyumbang 61% PDB nasional—sebuah pasar raksasa bagi ekonomi syariah. Namun kenyataannya, pangsa pasar perbankan syariah Indonesia baru mencapai 7,41%, jauh tertinggal dari Malaysia yang sudah mencapai 37%, meski penduduk Muslim Malaysia hanya sepersepuluh Indonesia. Inilah paradoks yang menjadi benang merah seluruh pemaparan hari itu: masyarakat tahu, tapi belum pakai.
Dalam keynote-nya, Prof. Irfan Syauqi Beik memaparkan data terbaru Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026: sebanyak 43,07% masyarakat memahami keuangan syariah, namun hanya 13,24% yang benar-benar menggunakannya—sebuah gap 29,83 poin yang nyaris tak bergerak dari tahun sebelumnya. Bandingkan dengan keuangan konvensional yang justru berpola sebaliknya (literasi 69,57%, inklusi 93,61%). Kesenjangan ini paling terasa di kalangan penduduk perdesaan, usia muda dan lanjut usia, masyarakat berpendidikan rendah, serta yang belum bekerja—kelompok yang juga paling rentan terjerat keuangan ilegal, yang telah merugikan masyarakat hingga Rp139,65 triliun sepanjang 2017–2023.
Prof. Irfan Syauqi Beik menegaskan, ekonomi syariah bukan sekadar instrumen keuangan, melainkan jalan pemberdayaan umat menuju kesejahteraan material sekaligus spiritual, sebagaimana tercermin dalam Model CIBEST yang beliau kembangkan bersama Laily Dwi Arsyianti. Potensi ekonomi syariah pun sangat besar: total aset keuangan syariah nasional mencapai Rp3.250 triliun (Juni 2026), sementara potensi ZISWAF (zakat dan wakaf) mencapai Rp508 triliun per tahun—namun realisasinya baru 13,7% untuk zakat dan 1,9% untuk wakaf uang. Ada "ruang fiskal sosial" raksasa yang belum tergarap optimal untuk mengentaskan kemiskinan.
Strategi Nasional: Dari Kebijakan ke Eksekusi di Akar Rumput
Bapak Alfi Wijaya selaku Ketua Umum HIMBARSI menjelaskan bagaimana ekonomi syariah kini telah menjadi strategi utama pembangunan nasional, selaras dengan Asta Cita Presiden dan RPJMN 2025–2029. Undang-Undang P2SK bahkan telah mengubah nomenklatur BPR Syariah menjadi "Bank Perekonomian Rakyat Syariah", mempertegas mandatnya untuk menggerakkan perekonomian lokal. HIMBARSI, sebagai organisasi yang resmi bertransformasi menjadi wadah mandiri sejak awal 2025, berperan menerjemahkan arah kebijakan nasional ini menjadi eksekusi nyata di lapangan.
Salah satu terobosan yang disampaikan adalah pergeseran paradigma fungsi sosial BPR Syariah, dari sekadar filantropi di pinggir bisnis menjadi motor penggerak bisnis inti melalui instrumen wakaf produktif (Cash Waqf Linked Deposit). Program seperti "Gaduh Kambing" dan "Rumah Peradaban" menjadi contoh nyata bagaimana dana sosial dapat diintegrasikan dengan pembiayaan komersial untuk memberdayakan UMKM hingga benar-benar mandiri.
Tak kalah penting, tantangan struktural yang dihadapi industri BPR Syariah pun turut menjadi sorotan—mulai dari tingginya rasio pembiayaan bermasalah (NPF) hingga keterbatasan permodalan, terutama pada BPRS kelas menengah yang justru menghadapi tekanan paling berat dibanding kategori aset lainnya. Untuk itu, tengah dirancang skema pendukung berupa entitas pembeli NPF dan entitas investasi penerbit sukuk, guna memperkuat ketahanan industri BPR Syariah ke depan.
Transformasi Perbankan Syariah untuk UMKM
Dr. Imam Teguh Saptono, dalam paparannya, menegaskan bahwa bank syariah bukanlah sekadar bank konvensional yang diganti istilah. Fondasinya berpijak pada keadilan, transparansi, dan kemanfaatan—prinsip yang harus terasa nyata pada desain produk dan pengalaman nasabah, bukan hanya di atas akad semata.
Beliau menyoroti bahwa meski UMKM menyumbang 60% PDB dan menyerap 97% tenaga kerja, porsi kredit UMKM di perbankan nasional baru 16,73% dari total kredit—kesenjangan skala yang mencolok antara kontribusi ekonomi dan akses pembiayaan yang diterima. Lima friksi utama diidentifikasi sebagai penghambat: akses jaringan yang terbatas, biaya layanan yang tinggi untuk tiket kecil, tenor yang tidak sesuai siklus usaha, proses yang masih berbelit, serta kepercayaan nasabah yang belum sepenuhnya terbentuk. Solusinya, kata beliau, adalah bergeser dari model penilaian berbasis agunan menuju data arus kas dan ekosistem, serta memperkuat sinergi antara Bank Umum Syariah dan BPRS—yang masing-masing membawa kekuatan skala dan kedekatan lokal yang saling melengkapi.
Sambutan dan Perkenalan BPRS Botani
Acara ini semakin istimewa dengan sambutan hangat dari Dr. Imam Haryanto, ST, MM, selaku Direktur Utama BPRS Botani, yang memperkenalkan profil dan perjalanan BPRS Botani kepada seluruh peserta yang hadir. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyampaikan presentasi penawaran saham BPRS Botani, mengajak masyarakat untuk turut memiliki dan tumbuh bersama lembaga keuangan syariah milik umat ini.
BPRS Botani juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh tamu undangan VIP dan peserta yang telah berkenan hadir dan memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya acara ini.
Direktur Utama BPRS Botani, Dr. Imam Haryanto, ST, MM, juga mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas antusiasme yang ditunjukkan seluruh peserta. "Acara ini membuktikan bahwa semangat umat untuk memahami dan menggunakan ekonomi syariah itu nyata. Kami berharap talkshow ini menjadi titik awal semakin banyak masyarakat, khususnya di Bogor, yang percaya dan bertransaksi bersama BPRS Botani," ujarnya.
Senada dengan itu, Direktur Operasional BPRS Botani yaitu Bapak Budy Sutra Darmawan,. SE,. turut menyampaikan apresiasinya. " Kami melihat langsung bagaimana literasi bisa perlahan bergerak menjadi inklusi, dan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan layanan yang semakin dekat dan mudah dijangkau oleh masyarakat," tuturnya.
Antusiasme juga dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satu peserta mengaku mendapatkan banyak pencerahan. "Saya jadi lebih paham bedanya pembiayaan syariah dengan konvensional, dan ternyata banyak sekali pilihan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan usaha kecil seperti saya. Acaranya seru, narasumbernya juga sangat komunikatif," ungkapnya. Seorang peserta lain yang merupakan mahasiswa IPB turut berbagi kesan positifnya, "Diskusinya membuka wawasan baru soal ekonomi syariah yang ternyata jauh lebih luas dari sekadar bank saja. Semoga acara seperti ini bisa lebih sering diadakan."
Meriah dengan Doorprize dan Kuis Interaktif
Selain diskusi yang mendalam, suasana talkshow juga dimeriahkan dengan sesi tanya jawab dan kuis interaktif yang berlangsung seru sepanjang acara. Para peserta yang aktif bertanya maupun menjawab kuis dengan penuh antusias berkesempatan membawa pulang berbagai hadiah menarik yang telah disiapkan panitia, menambah semangat dan kehangatan suasana hingga acara berakhir.
Satu benang merah yang bisa ditarik dari seluruh pemaparan hari itu: literasi menyalakan pemahaman, inklusi menggerakkan transaksi, dan maqashid memastikan dampaknya. Melalui talkshow ini, BPRS Botani berharap semangat literasi dan inklusi keuangan syariah dapat terus tumbuh, sehingga ekonomi syariah benar-benar menjadi jalan nyata pemberdayaan umat menuju kesejahteraan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Artikel ini disusun berdasarkan laporan jalannya acara serta paparan materi dari Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik (Dekan FEM IPB dan Komut PT BPRS Botani Bina Rahmah), Bapak Alfi Wijaya (Ketua Umum HIMBARSI), Dr. Imam Teguh Saptono (Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia), serta hasil analisis Karim Consulting Indonesia dalam rangka BPR Syariah Awards 2026 — dalam rangkaian Talkshow Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah BPRS Botani bersama FEM IPB University, Sabtu 5 September 2026.