BPRS Botani IPB University, Bahas Pengelolaan Harta di Masa Resesi

 

BPRS Botani IPB University Hadirkan Dr Irfan Syauqi Beik, Bahas Pengelolaan Harta di Masa Resesi

Akhir tahun ini Indonesia diyakini masuk jurang resesi. Kondisi ini bisa menumbuhnya rasa pesimisme dan kekhawatiran di sebagian masyarakat terkait makin menurunnya pendapatan pada masa yang akan datang. Untuk memberikan insight dan solusi dari sisi syariah, BPRS Botani IPB University menyelenggarakan Webinar Berkah Bersama Syariah: Strategi Rizki Melimpah dan Berkah di Tengah Wabah”, (12/11).
Acara ini menghadirkan Dr Irfan Syauqi Beik, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Ekonomi Syariah yang juga Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Botani. Dr Irfan menyampaikan bahwa dalam upaya meraih harta, kita harus memperhatikan wealth management. Yaitu bagaimana kita mengelola harta.
 “Harta yang kita peroleh haruslah bersumber dari sesuatu yang baik dan halal (wealth creation). Pemanfaatan harta yang digunakan harus memiliki manfaat berkelanjutan (wealth generation). Selain itu, harta juga harus dialokasikan secara optimum. Misalnya, dimanfaatkan untuk tabungan pendidikan, tabungan hari tua atau investasi (wealth preservation). Bagi beberapa orang yang memiliki harta berlebih, harta tersebut dapat diwariskan, diwakafkan untuk keperluan umum atau dihibahkan ke orang lain ketika masih hidup (wealth distribution).
“Selain yang sudah saya sebutkan tadi, yang terpenting adalah bagaimana seseorang harus membersihkan harta mereka (wealth purification) dengan memberikan sebagian harta mereka kepada orang yang membutuhkan,” ujarnya.
Menurutnya, kita juga harus bisa membuat prioritas pengeluaran agar harta penuh keberkahan yang melimpah di dalamnya. Urutan prioritas pengeluaran adalah Charity Debt Investment Consumption (CDIC). Prioritas utama adalah untuk zakat, infak, sedekah dan wakaf. Prioritas kedua yaitu kita wajib melunasi hutang, sebab dengan membayar hutang akan meringankan beban kedua belah pihak sehingga harta akan menjadi lebih berkah.
“Kemudian hendaklah kita menabung atau berinvestasi untuk kebaikan masa depan. Terakhir, belanjakanlah harta kita untuk sesuatu yang kita butuhkan. Dalam kata lain, kita harus membelanjakan harta kita seperlunya (tidak mubadzir) sehingga kita tidak termasuk dalam orang yang menghamburkan harta (boros),” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *