BPRS Botani IPB Bersiap Wujudkan Bank Agribisnis Nasional

Dalam 10  tahun terakhir,  pangsa sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) cenderung menurun. Dalam kurun waktu tersebut, pertumbuhan sektor pertanian khususnya sejak tahun 2012 juga menurun. Di sisi lain, pertumbuhan PDB Indonesia  juga menurun, sehingga pertumbuhan produksi pertanian dengan pertumbuhan ekonomi berkorelasi positif

“Korelasi antara pertumbuhan produksi pertanian dengan pertumbuhan ekonomi dalam sepuluh tahun terakhir itu,  tinggi sekali. Ini berarti kita perlu jaga pertumbuhan produksi pertanian supaya bisa menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Bukti terakhir menunjukkan bahwa memasuki potensi resesi ini, pertanian menjadi sektor yang pertumbuhannya positif,” kata Prof Hermanto Siregar, Guru Besar IPB University dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen dalam Webinar Mewujudkan Bank Agribisnis Nasional oleh BPRS Botani IPB University, Jumat  (14/8).

Di tengah pandemi Covid-19, pada triwulan II 2020 (y-o-y), pertumbuhan sektor pertanian naik menjadi 15,46 persen. Jika hanya melihat subsektor pangan ditambah perkebunan saja sudah 6,3 persen, lebih tinggi dari sektor lainnya.

Prof Hermanto lebih lanjut mengatakan, pertanian dalam arti luas menyerap sekitar 30 persen tenaga kerja, namun di sisi lain akses mendapatkan kredit perbankan hanya 9,5 persen. “Sehingga akselerasi sektor ini menjadi sulit,” ujarnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Salah satu kendala pembangunan pertanian adalah akses petani terhadap sumber modal. Namun kendala tersebut dapat diubah menjadi peluang, yakni peluang pembiayaan bagi perbankan. Dengan catatan, pertanian tidak hanya dilihat dari sisi on farm saja. Perlu melihat secara terintegrasi dari sisi off farm, non farm hingga sisi distribusi dan marketingnya.

“Dalam konteks kredit UMKM, memang sektor pertanian mendapatkan kredit yang sedikit lebih besar, yaitu 10,7 persen. Namun angka itu masih jauh di bawah sektor perdagangan yang berkisar di 50 persen. Saat ini preferensi bank umumnya kepada UMKM, dalam arti perdagangan, karena omset dan cashflow lebih mudah dikelola, dari sini menjadi justifikasi perlunya bank agribisnis,” ujar Prof Hermanto.

Mengatasi kendala dan mewujudkan peluang itu, IPB University menginisiasi pendirian Bank Agribisnis dengan tahapan panjang berdasarkan Rencana Jangka Panjang IPB University tahun 2019-2045. Bank Agribisnis ini terbuka pada berbagai bidang usaha, tentunya terutama bidang pertanian.

Sementara itu, Komisaris Utama Bank Mandiri Syariah, Dr Mulya Siregar juga mengatakan, saat ini IPB University memiliki sumberdaya ilmu yang tidak hanya berfokus pada pertanian. Dengan mengikuti perkembangan zaman, IPB University kini menjadi tempat ilmu sosial, ekonomi dan lingkungan. “Dengan potensi ini, rasanya IPB University tidak cukup hanya mendirikan Bank Agribisnis yang berfokus pada sektor pertanian, sementara di sisi lain dunia sedang menghadapi persoalan perubahan iklim,” katanya.

IPB University perlu memperhatikan sustainable finance yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Sustainable finance merupakan paradigma bisnis baru dalam finance. SDGs dengan 17 goalsnya itu, pada dasarnya berpusat pada 3Ps (profit, people dan planet).

Perbankan saat ini menurutnya, harus juga mengambil peran untuk mewujudkan 3Ps. Menariknya, Dr Mulya mengatakan, 3Ps dalam SDGs ini identik dengan konsep ekonomi Islam yang bertumpu pada maqashid syariah.

“Kalau kita lihat, tiga pilar ekonomi. Pertama fair dan just, dimana tidak boleh ada spekulatif, semua harus ada underlyingnya. Kedua, balance activities, antara finansial sektor harus imbang dengan sektor riil agar tidak menjadi bubble economy. Ketiga, orientasi yang sesuai dengan maqashid syariah. Sehingga menurut saya, ke depan antara ekonomi konvensional dengan syariah akan menemui titik temu,” ujarnya.

Sumber : Republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *